MUARASABAK,(Seputar Jambi)-Isu dugaan “membengkaknya” kapasitas kapal bantuan nelayan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mendadak viral dan jadi perbincangan hangat. Program yang awalnya disebut menghadirkan kapal 10 Gross Tonnage (GT), justru memunculkan angka berbeda saat direalisasikan—yakni sekitar 16 GT.
Lantas, apa benar terjadi ketidaksesuaian?
Dinas Perikanan Tanjabtim langsung memberikan penjelasan. Mereka menegaskan bahwa sejak awal kapal yang direncanakan tetap berkapasitas 10 GT, sesuai dengan dokumen resmi pengadaan. Tidak ada perubahan spesifikasi dalam proses pemesanan.
Namun, pihak pelaksana proyek dari PT Cahaya Anggun Segara mengungkap fakta lain yang menjadi kunci polemik ini: perbedaan cara menghitung Gross Tonnage.
Direktur perusahaan, Bambang, menjelaskan bahwa GT tidak ditentukan dari ukuran fisik kapal seperti panjang atau lebar, melainkan dari total volume ruang tertutup di dalam kapal. Nah, di sinilah letak perbedaannya.
Kapal bantuan yang dibuat menggunakan material fiber memiliki lebih banyak ruang tertutup dibanding kapal kayu tradisional yang sebelumnya dijadikan acuan survei. Ruang tambahan tersebut bukan tanpa alasan—di dalamnya terdapat fasilitas penting seperti perangkat navigasi, elektronik, hingga GPS.
Akibatnya, ketika dihitung menggunakan standar volume ruang tertutup, angka GT kapal tersebut meningkat menjadi sekitar 16 GT.
“Bukan kapalnya yang lebih besar, tapi ruang tertutupnya yang lebih banyak,” jelas Bambang.
Ia bahkan menegaskan, jika ingin menyesuaikan kembali ke angka 10 GT, hal itu bisa saja dilakukan tanpa mengubah ukuran kapal. Caranya cukup dengan mengurangi atau membongkar sebagian ruang tertutup. Namun langkah itu dinilai tidak bijak.
“Ruang itu penting untuk keamanan dan mendukung aktivitas nelayan. Kalau dibongkar, justru merugikan mereka,” tambahnya.
Di sisi lain, kapal yang diproduksi dipastikan merupakan unit baru dan telah sesuai dengan perencanaan awal. Program bantuan kapal ini sendiri merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Dillah Hikmah Sari dan Muslimin Tanja untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Dengan kapal yang lebih modern dan dilengkapi teknologi, nelayan diharapkan mampu melaut lebih jauh, lebih aman, dan membawa pulang hasil tangkapan yang lebih besar.
Meski begitu, polemik ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pemahaman teknis bisa memicu persepsi publik yang berbeda. Di tengah derasnya informasi, transparansi dan penjelasan yang utuh menjadi kunci agar tidak menimbulkan salah tafsir.
Jadi, ini bukan soal kapal “membesar”—melainkan kapal yang kini “lebih lengkap dan siap melaut.”(red)
Discussion about this post